Peraturan Baru Pemberian Nilai Dalam Pertandingan (Kumite) Karate.

·
 Ippon (3 angka)
Diberikan untuk teknik seperti :Tendangan JODAN
Yang dimaksud JODAN adalah : muka, kepala, dan leher.
Melakukan bantingan atau menyapu kaki lawan sehingga terjatuh ke matras dilanjutkan dengan teknik yang menghasilkan angka.



Waza Ari (2 angka)
Diberikan untuk teknik seperti : Tendangan CHUDAN
PENJELASAN :
Yang dimaksud CHUDAN adalah : perut, dada, punggung, dan samping.


Yuko (1 angka)
Diberikan untuk teknik seperti : CHUDAN dan JODAN TSUKI, serta uchi bisa menghasilkan poin satu asal penempatannya tepat di tujuh area poin.





*Peraturan lama Sanbon : 3 Point, Nihon : 2 Point, Ipon : 1 Point, sudah tidak dipakai lagi*
Baca Selengkapnya »»   Read More......

Pengertian Kushin ryu karatedo

·

Boleh di Copy Asal sertakan Link situs ini, trimakasih adrian@ondy.tk

Kushin ryu karate-do berasal dari beberapa kata :

Ku = udara

Shin = penuh

Ryu = aliran

Kara = hampa/kosong

Te = tangan

Do = orang/jiwanya : budi pekerti

 

Jadi istilah :

Ku shin ryu = aliran udara penuh

Karate = tangan kosong

Do = budi pekerti yang baik

 

Ku shin ryu karate-do yaitu jiwa yang besar disertai budi pekerti yang luhur dan memiliki ilmu yang tinggi, mampu membela diri dengan tangan kosong.

Boleh di Copy Asal sertakan Link situs ini, trimakasih adrian@ondy.tk

 

Baca Selengkapnya »»   Read More......

Istilah-istilah umum/aba-aba dalam bahasa Jepang

·
Boleh di Copy Asal sertakan Link situs ini, trimakasih
Istilah-istilah umum ini dipergunakan dalam latihan karate atau pertandingan karate.

Jooi                                  = Siap
Yame                                = Istirahat
Hajime                              = Mulai
Soremade                         = Selesai – Pelajaran sampai disini
Hansuku                           = kesalahan
Chui                                 = Peringatan
Ippong                             = Point/nilai
Kiyai                                = Suara keras
Kotai                               = Ganti kaki
Hikiwake                         = Seri/draw
Ai uchi                             = Sama-sama masuk (nilai kosong)
Tsuzukete                        = Teruska
Tsuzukete hajime             = Lanjutkan pertandingan
Yogai Nakae                   = Masuk arena
Motonoichi                     = Menyuruh pemain kembali ke posisi semula
Jika                                = Waktu
Wasaari                          = ½ (setengah) ippon
Awasete Ippon               = 2 (dua) wasari
Yame soremade              = Selesai
Aka                                = Merah
Shiro                              = Putih
Hantai                            = Minta penilaian dari para juri
Encho                            = Memperpanjang waktu
Hansoku Chui                = Peringatan suatu kesalahan
Shiro/aka hansoku         = Putih/merah membuat kesalahan
Shiro/aka no kachi         = Putih/merah menang
Shiro/aka niken nyori     = Putih/merah menyerah
Ato hibaraku                 = 30 detik terakhir
Fakushin shugo              = Memanggil para juri untuk berkumpul
Toremasae                     = Tidak ada apa-apa
Yogai                             = Keluar arena
Fuyubuh                         = Tidak cukup dilihat sebagai wasari
Mienai                            =Tidak terlihat

Boleh di Copy Asal sertakan Link situs ini, trimakasih adrian@ondy.tk
Baca Selengkapnya »»   Read More......

Sejarah KKI di Indonesia

·
Aliran Kushin Ryu pertama-tama dikembangkan di Indonesia oleh orang Jepang bernama Matsuzaki pada tahun 1963. Matsuzaki adalah karateka yang cukup disegani saat itu di Jepang, baru saja menjuarai kejuaraan terbuka di Osaka. Pada saat mendapatkan bea siswa ke Indonesia untuk melakukan penelitian sejarah di Indonesia, usianya baru berumur 22 tahun. Dengan berat hati ia meninggalkan Jepang, ia kesal karena prestasi karatenya terhambat.


Didorong dengan jiwa dan semangat karatedo-nya ia mengembangkan ilmunya kepada para pemuda Indonesia yang mula-mula terbatas di Kota Bandung pada tahun 1967. Matsuzaki yang saat itu menyandang DAN V Karate DO serta DAN V Judo Kodokan, dalam waktu singkat ilmu karatedo yang diajarkan telah menyebar luas keseluruh lapisan masyarakat Para Pelajar, Mahasiswa dari ITB, UNPAD, IKIP, APDN, Anggota ABRI, Pegawai Megeri maupun swasta mengikuti latihan, sehingga dalam waktu beberapa minggu saja siswanya sudah mencapai jumlah sekitar 5000 orang.

Karena aliran karate yang dibawanya adalah aliran Kushin Ryu Karate Do, maka pada saat itu resmilah menjadi suatu perguruan Kushin Ryu M Karate Do Indonesia yang di singkat KKI resmi didirikan pada tanggal 11 April 1967.

Kemudian perguruan KKI juga banyak berkembang di kesatuan ABRI baik angkatan darat maupun angkatan laut. Peranan anggota TNI dalam membina perkembangan KKI di Indonesia sangat membanggakan khususnya di lingkungan Kodam III Siliwangi. Anggota ABRI yang saat itu bertugas di daerah, selalu mengembangkan ilmu bela diri karatedo KKI, diantaranya di Irian Jaya, Sumbawa, Bali, Mataram, Dili – Timtim, Sulawesi, NTT, Jawa Tengah (AKABRI). Hampir seluruh kesatuan yang berada di Jawa Tengah dalam ilmu karate-do kerada di bawah binaan KKI Cabang AKABRI, termasuk angkatan Udara, POM AD, ARMED dan Kaveleri. Hingga saat ini perguruan KKI telah menyebar luas secara nasional




Powered by sondriter Telkomsel BlackBerry®
Baca Selengkapnya »»   Read More......

Filosofi

·

KUSHIN RYU : Ku artinya Langit dan Shin adalah hati yang kosong . Artinya seorang ksatria Kushin Ryu hendaknya mengosongkan hati dengan ikhlas untuk menerima ilmu beladiri yang berasal dari Sang Pencipta, menerima ilmu yang bersih dari rasa iri, dengki, dendam , bersifat jujur dan berjiwa seorang ksatria inilah makna filosofi KUSHIN RYU

Pendekar, atau sebut saja jago karate tak harus selalu tampil garang. Kalau enggak percaya, silakan tanya Horyu Martsuzaki (67), guru besar Kushin-Ryu Karate-Do, yang punya 1,2 juta murid di 27 provinsi di seluruh Indonesia. “Karate itu seperti celana dalam,” ujarnya mengejutkan.

Enggak, Anda tidak salah dengar. Karate memang bak pakaian dalam. Maksudnya, dia melekat pada diri, tapi tak pantas terlihat, apalagi sengaja diperlihatkan. Orang mempelajari ilmu bela diri justru agar tak tampak galak. Di keseharian, ada dua gaya hidup seni bela diri. Pertama, yang mementingkan peningkatan ilmu untuk memahami hakikat hidup dan mencapai jatidiri tertinggi sehingga bersikap rendah hati, dan sebaliknya, yang berniat memanfaatkan ilmu untuk memburu “nama baik” dan nama besar.

“Siapa saja yang ingin menguasai karate, pertama dan terpenting tak iri hati, berburuk sangka, mesti selalu rendah hati, pemurah, berperilaku baik, memelihara ketenangan spiritual, berusaha keras menjadi teladan bagi semua,” saran sang sensei yang juga punya murid di Australia, Paraguay, Uruguay, Chile, Argentina, Panama, Timor Leste, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea ini.

Saran bijak tadi tertuang di sampul bukunya, Perjuangan Hidup: Hakikat Kushin-Ryu Karate-Do (Primamedia Pustaka, 2006). Sesuai makna karate-do, karate (dasar tangan kosong), do (harus selalu ingat belajar kemanusiaan).

Penguasaan ilmu karate oleh orang tanpa mental mantap bisa fatal. Bila sebatas teknik pukulan dan serangan, itu baru kulitnya. Inti terdalam berarti mempelajari hidup dan manusia itu sendiri. Karate mengenalkan 100 titik lemah tubuh manusia, 44 di antaranya terlemah. Titik lemah berada di pusat otot, daging, pembuluh darah dan saraf. Jika ditinju atau ditendang karate-ka berketerampilan tinggi, bisa meninggal.

Karena tahu betapa berbahayanya titik lemah, bagian ini malah jarang sekali diserang. Kalahkan lawan dengan tenaga seminimal mungkin. Mengalahkan lawan itu penting, tapi menciptakan keadilan dalam bertanding itu lebih penting.

Karate menjembatani penempaan semangat dan jiwa untuk menemukan hakikat watak kita sendiri. Jika tak mengenali diri sendiri, kita tak dapat mengenali musuh. Jadi, pendekar sejati itu menguasai diri sendiri. Kekuatan yang sesungguhnya tak hanya membuat lawan takut tapi juga memberi kesegaran bagi lawan yang dikalahkan. Lawan mengakui kehebatan kita dengan hormat. Lawan tak ingin lagi menyerang. Kita menang tanpa diserang, tanpa perlu melawan.

“Saya belajar karate sejak sembilan tahun. Sampai kini merasa belum benar-benar menguasai intinya. Ini pelajaran sampai mati. Tiada guna banyak ilmu tanpa diterapkan. Dalam karate ada siasat, pura-pura tak kuat supaya lawan lengah, kita menang. Jadi di keseharian, karate membekali raga terlatih, pikiran terjaga. Sesekali marah, gusar, itu wajar. Tapi sebentar saja. Ini proses. Sewaktu muda saya juga sering marah, menggugat Tuhan, ha…ha…. Tapi makin berumur, kita mesti makin bijak. Seperti padi. Makin berisi makin merunduk.”

“Mempelajari olahraga atau seni bela diri bangsa lain, berarti mengenali budaya bangsa itu sendiri,” ujar Horyu dalam bahasa Indonesia fasih berlogat kental Jepang, tentang alasan datang ke Indonesia sejak akhir 1966.

Yang menarik, akar budaya tiap bangsa memberi warna tersendiri pada teknik karate. Orang Eropa lebih cocok memukul ke atas seolah memetik buah di ranting pohon. Orang Asia yang umumnya berlatar budaya petani lebih cocok memukul ke bawah seolah menanam padi. Secara fisiologis, jumlah serat otot ras Mongoloid macam Jepang dan Indonesia lebih sedikit dibanding Anglo-Saxon. Tapi bukan berarti refleks, naluri dan kemampuan bertarung Asia lebih rendah dibandingkan Anglo-Saxon. Agar menang, ras Mongoloid mesti berlatih keras untuk mengubah mutu otot dan memaksimalkan fungsi otot, kecepatan dan gerakan badan dari berbagai sudut, serta menggali kemampuan tersembunyi.

Karate yang kini dikenal berasal dari Jepang, sebenarnya lahir dari sinergi kungfu Cina dengan seni bela diri Jepang, ju-jutsu, toshin-jutsu, bo-jutsu, karate Okinawa. Unsur yang berbeda itu memperkaya. Misalnya, sundome (larangan menendang dan memukul ke badan lawan) bukan dari kungfu.

Karate-do aliran Kushin-Ryu dikembangkan Sannosuke Ueshima (1893-1987) pada 1932 dari gabungan kungfu Shaolin, karate Okinawa dan aliran Konshin-ryu Juho-jutsu, serta tinju Barat. Kushin bermakna kosong, melepaskan kesadaran hingga menyatu dengan alam semesta. Juho-jutsu itu jurus mengendalikan lawan tanpa pukulan mematikan tapi dengan kekuatan mental.
Oleh ayahnya yang sensei judo, Horyu awalnya “dipaksa” berlatih judo yang lebih olahraga bantingan dan karate yang lebih ke bela diri dan sikap satria.

Saat “ditugaskan” mengembangkan sayap ke luar Jepang, ia sebenarnya ditawari ke AS, “Tapi saya lebih suka Asia,” ujar pria yang secara fisik tak mengesankan sebagai mahaguru karate. “Ayah saya orang kaya, mengirimi uang untuk biaya hidup penuh. Sampai 42 tahun ini kami sama sekali tak ambil iuran untuk karate. Untuk nafkah hidup, kami punya bisnis,” ujarnya seraya merahasiakan jenis bisnisnya.

“Tak perlu cari kaya, tapi kebetulan diberkahi kaya ya enak. Ini wujud terima kasih. Terima dari Tuhan lalu kasih (berikan) pada orang lain. Jadi, orang kaya mengambilkan untuk yang lebih membutuhkan. Membantu orang lain tanpa membuat mereka merasa berutang budi. Benar-benar rela.”

Selama 19 tahun pertama tinggal di Bandung, mengajarkan karate di ITB, ia pulang pergi ke Jepang. Cintanya tertambat pada wanita Indonesia, Tsukie (Chandra) yang memberinya tiga anak, Takayo, Sawonari dan Kazuko. Sawonari pun karateka tangguh, lima kali juara berturut-turun turnamen karate se-Jepang 2000-2004.

“Kita bisa hidup dengan cara kita sendiri sesuai keyakinan tanpa perlu memperbandingkan dengan orang lain. Kebahagiaan ditentukan penilaian sendiri, bukan penilaian orang lain. Masalahnya, manusia selalu ragu. Yang penting, berusaha sekuat tenaga menjalani hidup dan bertanggung jawab pada perkataan dan perbuatan kita,” ujar Horyu, sambil menyebut salah satu sahabatnya, Sarwo Edhie Wibowo, yang dikenalnya sejak mengajar di militer, dan keluar dari keanggotaan MPR/DPR agar tak bertentangan dengan nuraninya, sebagai “Ksatria!”

Hidup teratur dan sehat

Dalam kehidupan sehari-hari tak selamanya kita mengecap kebahagiaan. “Kekecewaan sih banyak. Usaha rugi atau ditipu orang. Jangan marah. Anggap saja Tuhan kasih peringatan, percayalah, pada akhirnya kita akan sukses,” ujar pendiri Japan-Indonesia Partnership Development Research Institute di Tokyo, 1999 ini.

Disiplin latihan karate amat membantu untuk menyadari batas kemampuan, hingga tak memaksakan kemauan. Mampu lebih memusatkan pikiran dan tenang, tak mudah lelah dan tertekan. Maju bertanding melatih menentukan sasaran dan bercita-cita. Maju penuh gairah, dan tak boleh termenung kalau gagal, anggap saja sebagai awal baru.

Dari segi kesehatan, karate mampu mempertahankan kebugaran tubuh, menghilangkan kelebihan lemak dan mempercepat pertumbuhan sel otot. Kuda-kuda karate memicu darah mengalir lancar karena merangsang telapak kaki yang kerap disebut jantung kedua. Pembuluh darah pun jadi baik untuk meningkatkan kemampuan menjaga keseimbangan tubuh, menegakkan punggung dan memungkinkan leher, bahu dan denyut nadi hingga organ tubuh jadi lebih aktif.

Tentu saja, “Hidup pun mesti teratur. Tidur lebih bermutu, bukan lebih banyak. Usahakan sebelum pukul 12.00 malam.” Horyu merinci agenda hariannya, yang ia lakukan sejak 30 tahun terakhir. Bangun pagi pukul 04.00-.4.30, lalu minum 2 l air bening. Setengah jam kemudian latihan jurus sampai pukul 07.00. Pas matahari terbit bermeditasi 10-30 menit. Mandi, sarapan dengan tempe, tahu, telur rebus, atau diceplok dengan minyak zaitun.

“Sekitar 30 tahun lalu saya pernah memberikan seekor anak kucing pada teman. Induknya terus mencari. Ini menyentil saya. Sejak itu saya tak menyantap lagi hewan empat kaki, pokoknya yang dilahirkan tanpa telur, seperti babi dan sapi.” Horyu menggeluti bisnisnya sampai pukul 19.00, dan tidur pukul 21.30. Kadang-kadang tengah malam ia terbangun karena mimpi ilham jurus-jurus baru karate.

“Saya tak merokok. Mungkin orang Jepang dikenal peminum. Tapi saya tidak. Paling-paling toast untuk menghormati tamu atau rekan. Bahaya sekali kalau mabuk, semua rahasia paling pribadi bisa terbongkar.”

Tiap Sabtu-Minggu-Senin, Horyu mengajar murid-murid senior latihan pukul 14.00-16.00 di Dojo Sasakawa di Jln. Padjadjaran 37, Bandung, gedung olahraga untuk bela diri se-Jabar, yang sejak 1986 diserahkan pada Pemda Jabar. Aburizal Bakrie, Oesman Sapta, Arifin Panigoro, Marzuki Darusman adalah sebagian murid seniornya.

Baca Selengkapnya »»   Read More......

Sejarah Kushin Ryu

·
Pendiri "KUSHIN RYU Karate-Do" adalah Kiyotada Sannosuke Ueshima yang lahir pada tahun 1893 di wilayah Hyogo (Kobe), di Kota Akou - Jepang. Setelah berusia 3 tahun ia mulai belajar seni beladiri (aliran Konshin Yujoyutsu) di Akademi Matsubara di Kota Akou dibawah bimbingan guru Kiyotaka Kajei Matsubara. Menginjak usia 9 tahun ia mulai mengenal Tuan Sugaya atau Jigaya. Seorang pegawai kepolisian di kota Akou, ia seorang penduduk asli Okinawa. Dari dialah Ueshima mulai belajar bentuk-bentuk Karate Kata Channan dan Kata Kushanku (Kata Channan merupakan dasar Kata Pian yang diciptakan Ankou Itosu, salah satu kata orisinil yang dikembangkan dan dirubah menjadi KATA PIAN). Pada tahun 1918, saat berusia 25 tahun, Ueshima menerima gelar secara serempak sebagai ahli aliran Konshin Yujoyitsu dari tangan Guru Matsubara dan guru Guikyo Masazi Akada sebagai Guru terakhirnya dan juga guru dari Matsubara sendiri. Kemudian, Ueshima pindah ke kota Osaka, disana ia mulai membuka Akademi Konshin ? Ryu Yujoyitsu. Pada dekade awal abad ke 20, beberapa guru karate tiba di Okinawa di kota Osaka, bersama-sama mereka, Ueshima mempelajari dan mempraktikan cabang beladiri ini. Mereka adalah :
1, Choki Motobu, mengajar Aliran Tomari-Ja.
2, Kanamori Kinzyo, mengajar aliran Shorin and Goju.
3, Choshin Chibana, pendiri dan guru aliran Shorin.

Pada tahun 1932 Ueshima mendirikan Aliran Karate Kushin Ryu, ini merupakan hasil dari penggabungan aliran Konshin-Ryu Yujoyitsu dengan unsur-unsur Karate yang ia tambahkan didalamnya.
Pada tahun 1895 Organisasi Beladiri Jepang yang pertama didirikan disebut Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association). Pada tahun 1933, Ueshima menerima gelar Guru JUDO (KYOSHI) dari Association of Martial Virtue of the Great Japan.
Juga pada tahun 1935 dan untuk pertama kalinya di Jepang, Dewan Asosisasi Beladiri Jepang yang terhormat menganugerahi dia gelar Guru Karate (KYOSHI) dengan dua orang lainnya. Para guru yang menerima tanda kehormatan pada kesempatan itu adalah :
1, Choyun Miyagi ( Pendiri aliran Goju )
2, Kiyotada Sannosuke Ueshima ( Pendiri Aliran Kushin )
3, Yasuhiro Konishi ( Pendiri Aliran Shindo Shizen)

Pada tahun 1946 akhir yaitu perang Dunia ke II terjadi pembubaran Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association) Pada tahun 1965, beliau menerima gelar Dan 8 Judo Kodokan, Guru Kanamori Kinzyo, guru aliran Shorin dan Goju dan Guru karate Ueshima, kembali ke Okinawa disana dan ia mengembangkan Aliran Kushin.
Pada tahun 1940 Guru Kinzyo menerima gelar Guru Karate (RENSHI) dari Dai Nippon Butokukai (Great Japan Martial Virtue Association)
Pada tanggal 6 September 1987, pada usia 94 tahun, Kiyotada Sannosuke Ueshima, pendiri Kushin Ryu, meninggalkan para murid untuk selama - lamanya di kota Osaka. Saat ini President (Soke) kedua Kushin Ryu saat ini dipimpin oleh Ph. Dr HORYUU MATSUZAKI.
-kkicabangpupukkujang.blogspot.com
Baca Selengkapnya »»   Read More......

Aba-aba dalam latihan Karate

·
A. Kuda-Kuda
Heisoku-Dachi     =   Kuda – kuda berdiri normal.

Hachiji dachi        =  Berdiri Dengan kaki terbuka.

Zenkutsu Dachi    =  Kuda-kuda penuh / senpurna / kuda-kuda sempurna.

Kokutsu dachi     =  Kuda-kuda belakang / kuda-kuda T.

Neiko ashi dachi   =  Kuda-kuda tapak kucing / Kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk.

Shiko dachi          =  Kuda-kuda mengangkang : kedua tumit kedalam.

Kiba dachi           =  Kuda-kuda lebar / seimbang : kedua kaki sejajar.

Naipachin dachi   =  Kuda-kuda seperti akan duduk ; kedua lutut di tekuk.

Mishubi dachi      =  Kedua kaki rapat.




B. Geri Wasa : Tendangan

Mae geri                 =  Tendangan depan / muka.

Ushiro geri              =  Tendangan belakang.

Yumi geri                 =  Tendangan samping (sasaran lutut).

Yoko geri                =  Tendangan samping (sasaran lutut).

Mawashi geri          =  Tendangan melingkar.

Ring geri                 =  Tendangan beruntun.

Yoko geri               =  Tendangan kesamping dengan tumit.

Yoko tobi geri        =  Tendangan kesamping sambil loncat.

Yoko mai tobi geri  =  Tendangan sambil loncat.


C. Uke Wasa  :  Tangkisan.

Gedan barae          =  Tangkisan bawah.

Age uke                =  Tangkisan atas.

Ude uke                =  Tangkisan dalam.

Ushi uke               =  Tangkisan luar.

Shoto uke             =  Tangkisan pisau tangan.

Nidan uke             =  Tangkisan beruntun 2 pukulan.

Sampon uke          =  Tangkisan beruntun 3 pukulan.

Yodan yudi uke     =  Tangkisan silang atas.

Morote yudi uke   =  Tangkisan silang bawah.


D. Tzuki wasa : Pukulan.

Jodan tzuki          =  Pukulan uluh hati (Dada).

Yodan tzuki         =  Pukulan muka.

Chudan tzuki       = Pukulan perut / kemaluan.

Nidan Tzuki        =  Pukulan 2 beruntun (Muka dada).

Sampon tzuki      =  Pukulan 3 kali beruntun (Muka dada perut).

Giyaku tzuki        =  Pukulan berlawanan arah kaki / kuda-kuda.

Oi tzuki               =  Pukulan panjang.

Empi tzuki           =  Pukulan siku.

Uraken tzuki       =  Pukulan punggung tinju / kepalan.

Age tzuki            =  Pukulan keatas.

Morote tzuki       =  Pukulan 2 tangan beruntun.

Mawashi tzuki    =  Pukulan melingkar.

Seiken chubu tzuki   =  Pukulan lurus V berputar.

Shuto uchi          =  Pukulan parang / sisi tangan.

Yoko uchi          =  Pukulan samping : Sasaran ulu hati.

Komeng yoko uchi  =  Pukulan samping : Sasaran muka.

Nukite tzuki       =  Tusuk kedepan dengan jari-jari tangan.
Baca Selengkapnya »»   Read More......

CHAT

About Me